Riau

TravellersID - Visit Riau

Riau berada di bagian Timur Pulau Sumatra dan merupakan rumah bagi bangsa Melayu. Karya sastra Melayu pertama yaitu Bustanul Katibin ditulis oleh Raja Ali Haji (1850-1851 M) dan diterbitkan di Riau tahun 1857. Buku ini merupakan kitab kompilasi juru tulis bagi kanak-kanak yang mendeskripsikan tata cara penulisan bahasa Melayu dengan ejaan Arab-Melayu (Jawi).

Dari wilayah Riau inilah lahir dasar bagi Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar utama masyarakat Riau mempunyai sejarah yang cukup panjang, karena pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada Zaman Kerajaan Sriwijaya, Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional Lingua franca di kepulauan Nusantara, atau sekurang-kurangnya sebagai bahasa perdagangan di Kepulauan Nusantara.

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Riau, Indonesia

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Riau, Indonesia

Riau memiliki banyak objek wisata yang dapat Anda kunjungi. Sebut saja Pulau Jemur yang merupakan gugusan pulau-pulau yang indah terletak 45 mil dari Bagansiapiapi. Anda dapat juga menjelajahi alam bebas di Taman Nasional bukit Tiga Puluh dengan kekayaan dan keunikan ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah yang merupakan peralihan hutan rawa dan hutan pegunungan.

Ada juga objek wisata Bono, terletak di Desa Teluk Meranti, sebuah lokasi dengan fenomena air laut yang mengalir masuk dan bertemu dengan air Sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari. Hal yang menarik turis ke objek wisata ini adalah kegiatan berenang, memancing, naik sampan, dan wisata bahari lainnya yang mengesankan.

Pantai Rupat Utara Tanjung Medang menawarkan Anda pesona harmoni alam pesisir dengan pasir putih dan bersih, kejernihan air laut, dan deburan ombak yang berukuran sedang, sebuah tempat sempurna untuk berwisata bahari. Ada juga Air terjun Aek Mertua yang sering disebut air terjun tangga seribu karena memilki air terjun yang bertingkat-tingkat, sungguh mengagumkan untuk dinikmati.

Danau Pulau Besar, Siak, Riau, Indonesia

Danau Pulau Besar, Siak, Riau, Indonesia

Objek wisata bahari di Kabupaten Siak yang memiliki panorama indah menawan. Di sekitar danau masih ditemukan hutan yang masih asli. Kondisi danau maupun hutan di sekitar danau berstatus Suaka Marga Satwa luasnya mencapai 2.500 hektar. Di sini masih terdapat berbagai aneka jenis satwa dan tumbuhan langka. Sumber daya hayati yang terdapat di danau ini seperti pinang merah, ikan arwana dan ikan Balido yang dilindungi. Keanekaragaman jenis satwa liar di Suaka Marga Satwa danau Pulau Besar dan danau Bawah merupakan kekayaan tersendiri sebagai objek wisata di Riau Daratan.

Bila Anda tertarik dengan wisata budaya dan wisata sejarah dipastikan tersedia hal menarik di Riau. Seperti Upacara Bakar Tongkang telah menjadi wisata nasional bahkan internasional. Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi, Perahu Baganduang, Ritual Petang Megang, Masjid An-Nur di Pekanbaru, Masjid Raya Senapelan, Gedung Juang 45 Riau, Istana Siak Sri Indrapura, Candi Muara Takus, dan Benteng Tujuh Lapis.

Ada oleh-oleh yang tepat untuk Anda bawa pulang selepas mengunjungi Riau yaitu kerajinan daerahnya. Salah satu bentuk kerajinan daerah Riau adalah anyaman yang beraneka ragam erat hubungannya dengan kebutuhan hidup manusia. Kerajinan anyaman dibuat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah dan daun Rumbia. Hasil anyaman ini berupa; bakul, sumpit, ambung, katang-katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut sempirai, pangilo, lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah berupa tenunan yang sangat terkenal yaitu tenunan Siak. Tenunan siak ini mempunyai motif yang khas, sehingga nilai jualnya juga cukup tinggi. Tenunan ini biasanya dikerjakan dengan peralatan tradisional. Bila Anda ingin wisata belanja maka dapat mengunjungi Pasar Bawah, Pasar tradisional  dan pasar terapung di Tembilahan.

Bila Anda tertarik dengan wisata minat khusus maka dapat mengunjungi Balai Adat Melayu Riau dan Balai Adat Melayu Indragri Hulu, desa wisata Buluh Cina, atau Tugu Tepak Sirih di Dumai.

Pastikan Anda mengunjungi objek wisata lainnya di Riau mulai kota dari Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Rokan Hulu, dan Rokon Hilir.

Peta Provinsi Riau

Peta Provinsi Riau

Provinsi Riau secara geografis, geoekonomi dan geopolitik terletak pada jalur yang sangat strategis karena terletak pada jalur perdagangan Regional dan Internasional. Ibu kota Riau sejak tahun 1959 adalah Pekanbaru dimana sebelumnya berada di Tanjung Pinang yang terletak di Pulau Bintan.

Provinsi Riau sebelum dimekarkan menjadi 2  provinsi mempunyai luas 235.306 Kilometer persegi atau 71,33 persen merupakan daerah lautan dan hanya 94.561,61 Kilometer persegi atau 28,67 persen daerah daratan. Setelah terjadi pemekaranan wilayah dengan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau pada 1 Juli 2004 menjadi provinsi ke 32 di Indonesia maka Provinsi Riau yang dulunya terdiri dari 16 Kabupaten/Kota sekarang hanya tinggal 11 Kabupaten/Kota.

Daerah Riau beriklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm/tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau serta musim hujan. Rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari. Suhu udara rata-rata di Kota Pekanbaru menunjukkan optimum pada 27,6° Celcius dalam interval 23,4-33,4° Celcius.

Sumber: Indonesia.Travel

Istana Siak, Riau, Indonesia

Istana Siak, Riau, Indonesia

Secara etimologi kata Riau berasal dari bahasa Portugis, Rio berarti sungai. Pada tahun 1514 terdapat sebuah ekspedisi militer Portugis menelusuri Sungai Siak, dengan tujuan mencari lokasi sebuah kerajaan yang diyakini mereka ada pada kawasan tersebut, dan sekaligus mengejar pengikut Sultan Mahmud Syah yang melarikan diri setelah kejatuhan Malaka.

Pada awal abad ke-16, Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental mencatat bahwa kota-kota di pesisir timur Sumatera antara Arcat (Aru danRokan) hingga Jambi merupakan pelabuhan raja-raja Minangkabau. Dimasa inipula banyak pengusaha Minangkabau yang mendirikan kampung-kampung pedagang di sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan, dan Inderagiri. Satu dari sekian banyak kampung yang terkenal adalah Senapelan yang kemudian berkembang menjadiPekanbaru.

Pada masa kejayaan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang didirikan oleh Raja Kecil, kawasan ini merupakan bagian dari wilayah kedaulatan Siak. Sementara, Riau dirujuk hanya kepada wilayahYang Dipertuan Muda (raja bawahan Johor) di Pulau Penyengat, kemudian menjadi wilayah Residentie Riouw pemerintahan Hindia-Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang, dan Riouw, dieja oleh masyarakat setempat menjadi Riau.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Kesultanan Siak Sri Inderapura dan Residentie Riouw dilebur dan tergabung dalam Provinsi Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Kemudian Provinsi Sumatera dimekarkan menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Dominannya etnis Minangkabau dalam pemerintahan Sumatera Tengah, menuntut masyarakat Riau untuk membentuk provinsi tersendiri. Selanjutnya pada tahun 1957, berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 tahun 1957, Provinsi Sumatera Tengah dimekarkan menjadi tiga provinsi yaitu Riau, Jambi dan Sumatera Barat. Kemudian yang menjadi wilayah provinsi Riau yang baru terbentuk adalah bekas wilayah Kesultanan Siak Sri Inderapura danResidentie Riouw serta ditambah Bangkinang yang sebelumnya pada masa pendudukan tentara Jepang dimasukan ke dalam wilayah Rhio Shu.

Kemudian berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25, pada tanggal 20 Januari 1959, Pekanbaru resmi menjadi ibu kota provinsi Riau menggantikan Tanjung Pinang. Namun pada tahun 2002, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002, Provinsi Riau kembali dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Riau dan Kepulauan Riau. Hal ini juga tidak lepas dari ketidakpuasan masyarakat atas rasa ketidakadilan dalam politik maupun ekonomi terutama yang berada pada kawasan kepulauan.

Sumber: Wikipedia Indonesia

Sebagai ibukota provinsi, Pekanbaru menjadi salah satu pintu gerbang masuknya para pendatang ke Riau. Di Pekanbaru terdapat tiga fasilitas transportasi yang bisa digunakan. Yaitu melalui transportasi darat, air (laut), dan udara.

Udara

Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II (IATA: PKU, ICAO: WIBB) adalah sebuah bandar udara yang terletak di Kota Pekanbaru dan sebelumnya bernama Bandara Simpang Tiga. Bandara ini memiliki luas 321,21 ha. Dalam rangka menyambut PON XVII pada tahun 2012 mendatang, bandara ini diperluas sehingga nantinya dapat menampung pesawat yang lebih besar. Bandara ini juga menjadi home-base bagiSkuadron Udara 12 TNI AU.

Ini adalah daftar maskapai yang meiliki penerbangan ke Provinsi Riau (data per Agustus 2012):

Maskapai Tujuan
AirAsia Kuala Lumpur
Batavia Air Jakarta-Soekarno Hatta, Batam
Firefly Kuala Lumpur-Subang
Garuda Indonesia Jakarta-Soekarno Hatta,
Indonesia AirAsia Bandung
Lion Air Batam, Jakarta-Soekarno Hatta
Pelita Air Service Dumai
SilkAir Singapura[1]
Sky Aviation Tanjungpinang, Malaka
Sriwijaya Air Jakarta-Soekarno Hatta, Medan
Wings Air Batam, Malaka

Darat

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki adalah terminal yang terdapat di kota Pekanbaru. Setiap harinya terminal ini melayani bus-bus besar dan kecil yang melayani rute dari dan ke Pekanbaru. Berbagai tujuan mulai dalam provinsi sampai ke luar provinsi dan pulau Jawa dapat dilayani di sini. Terminal Bandar Raya Payung Sekaki terdapat di Jl Tuanku Tambusai Pekanbaru. Untuk mendapatkan informasi tentang terminal ini, anda bisa menghubungi nomor telepon+62 761 7047979.

Laut

Pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Di Pekanbaru terdapat pelabuhan dengan nama Pelabuhan Sungai Duku. Setiap harinya pelabuhan ini melayani kapal-kapal yang berangkat dan berlabuh di Pekanbaru. Kapal-kapal yang datang ke pelabuhan ini berasal dari dalam dan luar negeri. Untuk dalam negeri, kapal-kapal tersebut datang dari Batam, Selat Panjang, Tanjung Balai Karimun, dan lain-lain. Sementara untuk rute internasional, di pelabuhan Sungai Duku juga terdapat kapal yang menuju ke Malaka, Malaysia.

Sumber: Riau Magazine dan Wikipedia Indonesia

Tari Persembahan Daulat Negeri Kebangkitan Melayu, Riau, Indonesia

Tari Persembahan Daulat Negeri Kebangkitan Melayu, Riau, Indonesia

Suku Bangsa

Penduduk provinsi Riau terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Mereka terdiri dari Jawa (25,05%), Minangkabau (11,26%), Batak (7,31%), Banjar (3,78%), Tionghoa (3,72%), dan Bugis(2,27%). Suku Melayu merupakan masyarakat terbesar dengan komposisi 37,74% dari seluruh penduduk Riau. Mereka umumnya berasal dari daerah pesisir di Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, hingga ke Pelalawan, Siak, Inderagiri Hulu dan Inderagiri Hilir. Namun begitu, ada juga masyarakat asli bersuku rumpun Minangkabau terutama yang berasal dari daerah Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan sebagian Inderagiri Hulu. Juga masyarakat Mandailing di Rokan Hulu, yang lebih mengaku sebagai Melayu daripada sebagai Minangkabau ataupun Batak.

Abad ke-19, masyarakat Banjar dari Kalimantan Selatan dan Bugis dari Sulawesi Selatan, juga mulai berdatangan ke Riau. Mereka banyak bermukim di Kabupaten Indragiri Hilir khususnyaTembilahan. Di bukanya perusahaan pertambangan minyak Caltex pada tahun 1940-an di Rumbai, Pekanbaru, mendorong orang-orang dari seluruh Nusantara untuk mengadu nasib di Riau.

Suku Jawa dan Sunda pada umumnya banyak berada pada kawasan transmigran. Sementara etnis Minangkabau umumnya menjadi pedagang dan banyak bermukim pada kawasan perkotaan seperti Pekanbaru, Bangkinang, Duri, dan Dumai. Begitu juga orang Tionghoa pada umumnya sama dengan etnis Minangkabau yaitu menjadi pedagang dan bermukim pada kawasan perkotaan, serta banyak juga terdapat pada kawasan pesisir timur seperti di Bagansiapiapi, Selatpanjang, Pulau Rupat dan Bengkalis.

Selain itu di provinsi ini masih terdapat sekumpulan masyarakat asli yang tinggal di pedalaman dan pinggir sungai, seperti Orang Sakai, Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut.

Anjungan Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Anjungan Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Bahasa

Bahasa pengantar masyarakat provinsi Riau pada umumnya menggunakan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu umumnya digunakan di daerah-daerah pesisir seperti Rokan Hilir, Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan di sekitar pulau-pulau. Bahasa Minang secara luas juga digunakan oleh penduduk di provinsi ini, terutama oleh para oleh penduduk asli di daerah Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu yang berbudaya serumpun Minang serta para pendatang asal Sumatera Barat. Selain itu Bahasa Hokkien juga masih banyak digunakan di kalangan masyarakat Keturunan Tionghoa, terutama yang bermukim di daerah seperti Selatpanjang, Bengkalis, dan Bagansiapiapi. Dalam skala yang cukup besar juga didapati penutur Bahasa Jawa yang digunakan oleh keturunan para pendatang asal Jawa yang telah bermukim di Riau sejak masa penjajahan dahulu, serta oleh para transmigran dari Pulau Jawa pada masa setelah kemerdekaan. Di samping itu juga banyak penutur Bahasa Batak di kalangan pendatang dari Provinsi Sumatera Utara.

Agama

Dilihat dari komposisi penduduk provinsi Riau yang penuh kemajemukan dengan latar belakang sosial budaya, bahasa, dan agama yang berbeda, pada dasarnya merupakan aset bagi daerah Riau sendiri. Agama-agama yang dianut penduduk provinsi ini sangat beragam, diantaranya Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Berbagai sarana dan prasarana peribadatan bagi masyarakat Riau sudah terdapat di provinsi ini, seperti Mesjid Agung An-nur (Mesjid Raya di Pekanbaru), Masjid Agung Pasir Pengaraian, dan Masjid Raya Rengat bagi umat muslim. Bagi umat Katolik/Protestan diantaranya terdapat Gereja Santa Maria A Fatima, Gereja HKBP di Pekanbaru, GBI Dumai, Gereja Kalam Kudus di Selatpanjang, Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus di Bagansiapiapi, Gereja Methodist (Jemaat Wesley) di Bagansiapiapi. Bagi umat Buddha/Tridarma ada Vihara Dharma Loka dan Vihara Cetia Tri Ratna di Pekanbaru, Vihara Sejahtera Sakti di Selatpanjang, Kelenteng Ing Hok Kiong, Vihara Buddha Sasana, Vihara Buddha Sakyamuni di Bagansiapiapi. Bagi Umat Hindu adalah Pura Agung Jagatnatha di Pekanbaru

Sumber: Wikipedia Indonesia

Pindang Ikan Patin, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Pindang Ikan Patin, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Makanan tradisional orang Melayu bercita rasa makanan yang pedas, namun Anda juga dapat menemukan berbagai macam makanan lain disini. Makanan yang paling terkenal di Riau adalah kare. Orang Melayu memiliki resep istimewa dengan bahan-bahan seafood. Bagi Anda tidak kuat makanan pedas, jangan khawatir disini juga terdapat banyakwestern food dan fast food yang tersebar di seluruh kota.

Sumber: Indonesia.Travel

Pembagian Wilayah di Provinsi Riau

Pembagian Wilayah di Provinsi Riau

Pemerintahan di Provinsi Riau dibagi menjadi 12 kabupaten/kota, yaitu:

  1. Kabupaten Bengkalis
  2. Kabupaten Indragiri Hilir
  3. Kabupaten Indragiri Hulu
  4. Kabupaten Kampar
  5. Kabupaten Kuantan Singingi
  6. Kabupaten Pelalawan
  7. Kabupaten Rokan Hilir
  8. Kabupaten Rokan Hulu
  9. Kabupaten Siak
  10. Kabupaten Kepulauan Meranti
  11. Kota Dumai
  12. Kota Pekanbaru

Kantor Pariwisata

Jl. Jend. Sudirman No. 200, Pekanbaru
Tlp. (62-761) 31452, 40356
Fax. (62-761) 40356
Website : http://www.riau.go.id/